Kamis, 15 Agustus 2019

Jatuh Hati atau Patah Hati


Cerpen ini dibuat tahun lalu dan pernah diikutsertakan dalam lomba Literasi Kita, tapi cuman jadi 'kontributor terpilih' :') 
Happy reading, chingudeul. Semoga suka meskipun masih newbie. :)

---

Jatuh Hati atau Patah Hati

            Secercah langit berwarna kemerahan menyapa indahnya sore. Menyejukkan hati siapapun yang melihatnya. Seakan menggambarkan suasana yang tegas namun menyejukkan.
            Lain halnya dengan gadis kurus dan tinggi dengan kacamata yang menggantung di daun telinganya. Dia terduduk lemas dengan wajah yang suntuk di depan kelas salah satu perguruan tinggi. Dia terlihat sedang menanggung banyak masalah. Jika memandangnya pastilah akan terbawa badmood juga.
            Kirana, namanya. Dia kemudian bangkit dari duduknya sambil menenteng beberapa buku bacaan. Sedari tadi rupanya dia merisaukan jika lelaki yang didambakannya justru tengah asyik bercengkrama dengan wanita lain.
            Suka? Jelas, atau bahkan lebih. Sepertinya Kirana memang menyukainya. Kepribadiannya serta wajahnya yang memang sangat tampan.
            Kirana mengenalnya sejak lelaki itu berada di Unit Kegiatan Mahasiswa yang bersama dengannya sejak semester 1. Namun, lelaki itu sangat acuh dengan Kirana.
            Entahlah, Kirana masih saja menyukainya. Hingga kini.
***

            Kirana berjalan memasuki taman di fakultasnya. Ia duduk di salah satu bangku yang suasananya rindang sebab disekitarnya ditumbuhi pohon-pohonan. Semilir angina membuatnya tenang dan larut dalam kesendirian. Ia mengangkat kepalanya dan dalam beberapa saat ia menghembuskan nafasnya perlahan-lahan.
            “Hey Na. Kamu ada acara nanti malem nggak?” Tanya lelaki bertubuh tinggi yang tiba-tiba duduk disamping Kirana.
            Kirana terkejut cukup lama. Namun kemudian ia tersadar dengan suara deheman lelaki tersebut. “Eh, iya? Gimana Vid?”
Lelaki itu adalah David. Orang yang disukai Kirana tiba-tiba mengajaknya ‘kencan’. Entahlah ini bisa disebut kencan atau bukan. Yang terpenting untuk saat ini adalah jantungnya. Ia sangat tidak karuan untuk saat. Mengingat sikap David yang mendadak berubah 180 derajat ini.
Konyol banget nggak, sih? Cowok cuek kayak gini. Batinnya.
            “Mau nggak, Na? Ntar kita ketemuan ya di Pinastika Resto dan Café ya.”
            Kirana mengangguk tanda setuju.
Entahlah, seketika Kirana mendadak hidupnya berubah.
***

            Ketika dirimu dipertemukan dengan dua hal. Antara memilih untuk bertahan atau berhenti. Bertahan untuk terus memperjuangkan dia. Atau berhenti, melupakan segalanya tentangnya. Dua hal yang berlawanan.
            Cukup pelik memikirkan yangmana yang harus dipilih. Kembali lagi kepada kata hati kita. Mana yang harus dipilih?
            Jika memang harus bertahan. Apakah konsekuensinya berat? Apakah dia juga akan balik memperjuangkan kita? Atau justru dia berpaling pada yang lebih dari dirimu? Ibaratnya, hanya bermain-mana saja dengan dirimu?
            Berbagai hal menggelayut di pikiran Kirana.
***

            Kini Kirana duduk berhadapan dengan David. Beberapa kali Kirana merubah posisi duduknya. Merasa tidak nyaman. Entahlah, ini sangat canggung, teman-teman!
            “Kamu mau pesen apa, Na?”
            “Samain aja kayak kamu, deh.”
            “Oh, oke. Kamu nggak papa kan, aku ajak jalan-jalan gini?” Tanya David.
            “It’s O.K.” jawab Kirana mulai mencoba terlihat biasa saja.
            Akhirnya mereka mulai mengobrol satu sama lain, dan mulai akrab. Kemudian David berkata, “Maaf ya, Na, aku sering cuek ke kamu.”
            Kirana terdiam dan tak membalas ucapan David.
***

            Semenjak kejadian itu, Kirana dan David semakin kerap bertemu. Ya, mereka memang sering bertemu. Namun hanya di UKM yang mereka ikuti. Namun kali ini, diluar kampus saja mereka cukup sering bertemu. Seperti ke café bersama, ke perpustakaan bersama, bahkan olahraga untuk sekadar jogging pun bersama hingga Kirana dan David pun terkadang saling mengunjungi rumah masing-masing.
Kini pandangan Kirana terhadap David berubah. Ia mengakui bahwa David memang orang yang menyenangkan, nyambung diajak bicara, dan cukup humoris. David yang cuek adalah panggilan untuknya ketika Kirana belum akrab dengannya.
            “Vid? Kamu bisa cariin buku ini nggak? Kirana yang masuk dijurusan Sosiologi ini meminta tolong pada David.
            David berpikir sejenak, “Kamu tuh aneh ya, Na. Aku ‘kan, jurusan Hubungan Internasional. Kamu nyuruh aku cariin buku Sosial. Hehehe.”
            “Ya udah sih, kalau nggak mau.” Kirana sudah mentok banget. Tugasnya menumpuk dan Kirana sebenarnya bukan tipe orang yang ingin meminta bantuan, namun entahlah kepada David ia justru ingin David menolongnya.
            “Ok. Aku cariin. Tapi nanti malem temenin aku jalan-jalan ya.”
***

            Drtt.. drtt… Ponsel Kirana bergetar tanda ada pesan Whatssapp masuk.
            “Kirana, aku udah di depan rumah kamu.”
            Kirana lalu keluar dari rumahnya dan segera menemui David. David memandangnya sebentar kemudian bergumam, “Sangat cantik.”
            Kemudian mereka berjalan-jalan ke acara perayaan Malam Tahun Baru. Mereka membeli beberapa makanan. Dan berbagi cerita. Mereka saling tersenyum dan berfoto bersama. Layaknya pasangan yang tengah bergembira.
Ketika mengantar Kirana pulang, David berkata, “Na, makasih ya, buat hari ini.” Ia tersenyum manis.
Kirana membalas senyumannya. “Iya, Vid.”
David tiba-tiba menggenggam tangan Kirana.
Untuk pertama kalinya, Kirana merasa dirinya adalah wanita paling bahagia. Apakah ia merasa semakin jatuh hati dengan lelaki dihapadannya ini?
***

            Kirana melamun di kantin fakultasnya. Ia duduk seorang diri sambil mengaduk-aduk baksonya. Padahal biasanya jika ia dihadapkan dengan bakso, yangmana merupakan makanan favoritnya, ia akan langsung melahapnya. Namun kini ia tak berselera makan.
            Sudah hampir 1 bulan David tidak mehubunginya. Pernah ia nge-chat saja tak ada respon.  Tunggu, ketika tak sengaja berpapasan di kampus saja David melengos dan pergi.
            Kirana tidak seberani itu untuk mengunjungi rumah David, dan menanyakan mengapa tiba-tiba sikap David berubah? Lagi?
            Apa salah Kirana? Apa Kirana membuatnya tak nyaman? Ataukah Kirana hanya sekadar ‘tempat’ untuk melampiaskan rasa bosannya saja? Sesakit itukah?
            Kirana menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh. Ia tidak mengerti mengapa ditinggal oleh orang yang tiba-tiba dekat dengannya adalah hal sesakit ini.
            Kirana bergumam. Untuk apa? Untuk apa David mengunjungi hatinya jika hanya dalam waktu hitungan detik?
***

            “Kirana, gue ada kabar baru. Lo mau tau nggak?” Tanya Citra dengan hati-hati. Citra adalah teman yang paling dekat dengannya di kampus.
            Kirana merubah posisi duduknya. “Eh, Citra. Ada apa , Cit?”
            “Tapi gue nggak enak ngomongnya, Na.” Citra tersenyum masam.
            “It’s OK. Ngomong aja.”
            “Lo tau Laura? Anak fakultas Sastra yang terkenal itu?” Kirana mengingat-ingat kemudian mengangguk.
            “David ngelamar Laura kemarin.”
            Tenggorokan Kirana tercekat. Entahlah untuk beberapa saat ia terdiam dan ia tak mendengar ada suara apa-apa. Pikirannya kosong. Kemudian ia berpamitan pada Citra untuk pulang.
            Untuk beberapa hal, Kirana ingin sendirian. Dengan kabar yang melumpuhkan harapannya. Dengan kenyataan yang miris ini. Dengan realita yang membuat hatinya sakit hati.
***

            Dalam hidup, ada kalanya hal yang tak terduga datang menimpa. Entah hal itu menyenangkan atau menyesakkan hati. Semuanya telah diatur oleh Sang Pencipta.
            Apa yang bisa kita lakukan? Merubahnya? Semudah itukah?
            Helaan napas cukup panjang tandanya ini sangat berat. Gumaman cukup keras menandakan beban yang diembannya semakin banyak. Air mata yang membanjiri kedua pipi mengartikan bahwa yang dirasakan adalah kesedihan yang mendalam.
            Tak mampu. Dua kata yang jelas dan menandakan bahwa benar-benar tak bisa.
            Ya, Kirana hanya bisa merelakan. Lelakinya direbut oleh wanita lain. Entah ini direbut adalah kata yang pas atau tidak. Oh, tunggu. Atau lebih tepatnya, pergi? Benar. Lelaki itu pergi bersama wanita lain.
            Perlahan menghapus kenangan antara Kirana dengan dirinya. Entah itu benar-benar dari hatinya atau… ah sudahlah. Berat sekali bahkan untuk mengungkapkan.
            Memejamkan mata. Berharap esok hari akan ada yang lebih baik. Begitukah? Akan ada tangan lain yang mengenggamnya dan berkata, patah hati bukan akhir dari segalanya. Mari bangkit kembali dan mulailah menata hati. Agar tidak sia-siakan hidup ini. Hidup masih panjang, dan biarkan rasa ini hilang seiring berjalannya kehidupan ini.
            Relakan dan bangkitlah. Percaya bahwa akan kau temukan kembali lelaki lain yang jauh lebih dari dirinya. Yang mampu bersamamu apa adanya. Menuntunmu hingga ke jalan Surga. Dan membuatmu lupa akan patah hati itu apa?

----

0 komentar:

Posting Komentar