/ Jadi setelah perkenalan tokoh, selanjutnya adalah
langsung masuk aja ke jalan ceritanya ya. Hope you like it
ya! Thanks for reading. Jangan lupa tinggalin jejak, x_x //
---
Hujan deras mengguyur daerah yang identik terkena banjir
ini. Perlahan-lahan menjadi gerimis kecil. Lalu beberapa menjadi genangan air
disekitar aspal dan trotoar. Hilir mudik orang-orang berlalu-lalang tak sengaja
ataupun disengaja menginjak genangan tersebut.
Seorang gadis dengan mengenakan mantel berwarna merah itu
melajukan sepeda motornya dengan kecepatan rata-rata. Dia membelokkan motornya
ke kanan dan berhenti disebuah rumah bergaya Selandia itu. Kecil namun elegan.
Dia bernama Nadine Maharani. Gadis bertubuh lumayan
pendek dan kurus.
Nadine memasuki rumahnya dan mengucapkan sepatah salam.
Sepi. Begitulah sehari-harinya.
Nadine meletakkan mantelnya ditempat jemuran kemudian
duduk di sofa dan mengotak-atik smartphone-nya. Tiba-tiba ada panggilan masuk
dari temannya, Chika.
“Halo,
Nad?” sapa suara di ujung sana.
“Eh
halo, Chik. Lo dimana, Chik? Gimana ini buat persiapan ospek besok? Lo udah
siap-siapin barang-barangnya?” tanya Nadine dengan sederatan pertanyaan.
“Eh, lo tuh ya. Gue pusing nih denger lo nanya banyak
gitu. Padahal niatnya gue yang nanya.”
Nadine nyengir. “Jadi gimana?”
“Udah, udah gue siapin.”
“Serius? Gue ntar malem otw rumah lo ya. Mau ngeliat
semuanya.”
“Lo belum semuanya?”
“Belum lah. Tau sendiri gue gimana. Btw lo mau nanya
apaan tadi?”
“Nggak
jadi, Nad. Gue cuman mau nanya persiapan lo buat ospek besok ternyata belom.”
“Ehehehe..”
Kemudian Chika memutuskan panggilannya.
Nadine menyenderkan kepalanya di ujung sofa di ruang tamu
rumahnya.
Mulai besok, Nadine sudah saatnya untuk menjadi seorang
mahasiswi. Dia merasa baru kemarin menginjakkan kaki di SMA-nya. O.K, ini
terdengar lebay. Nadine merasa beruntung masih bisa kuliah, meskipun Mamanya
harus membiyai SPP kuliahnya seorang diri, yang mana Mamanya hanya pegawai
kantor biasa yang harus lembur demi naiknya pangkat. Ya, Mama dan Papa-nya
harus bercerai dikarenakan ketika Nadine masih berumur sekitar 8 tahun, Nadine
harus mendengar setiap bentakan Papa kepada Mama-nya.
Kala
itu papanya Nadine jarang pulang, terkadang pulang dalam kondisi mabuk berat,
bahkan beliau juga berselingkuh. Hal itu membuat Mamanya Nadine menceraikan
beliau.
Belajar
dari banyak hal yang menimpanya, Nadine berusaha untuk terlihat ceria, meskipun
hubungan dalam keluarganya cukup buruk.
Beginilah
kisah seorang gadis bernama Nadine Maharani.
***
Nadine memarkirkan motor matic-nya di tempat parkir
Fakultas Ekonomi dan Bisnis di kampusnya, Universitas Dharmabakti. Dia lumayan
tercenggang dengan kondisi parkir disini. Ramai banget. Tapi, wajar saja sih,
‘kan hari ini hari pertama mahasiswa dan mahasiswi baru menjalani ospek atau
Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus selama 6 hari.
Nadine mengecek smartphone-nya, membuka grup
Whattsapp-nya untuk melihat di mana teman-teman baru di jurusannya ini.
“Eh, Nadine ya?” sapa seorang wanita berambut pendek.
“Iya. Halo, Kamu siapa?”
“Aku Meli. Managemen 2018. Aku ngeliat foto kamu di WA. Yuk, mereka udah ada di lapangan kampus. Lewat sini..”
“Aku Meli. Managemen 2018. Aku ngeliat foto kamu di WA. Yuk, mereka udah ada di lapangan kampus. Lewat sini..”
“Eh, ayo, Mel.”
Nadine dan Meli melihat sekeliling. Ramai sekali. Mungkin
teramat sulit untuk mencari di mana Managemen 2018 berada. Tiba-tiba ada
seorang senior Pembina ospeknya menanyakan dari jurusan apa mereka. Setelah
menyebutkan, mereka diarahkan di mana teman-temannya berada.
Ospek selama 6 hari akhirnya berakhir, mulai dari
keliling kampus, seminar tentang jurusannya, pengenalan UKM di kampusnya, dan
sebagainya yang semuanya dimulai dari pukul 5 pagi hingga menjelang magrib.
***
“Sumpah, gila, ini capek parah.” Nadine menghela nafas
panjang. Nadine sedang berada di kantin kampus bersama dengan teman-teman dari
jaman SMA-nya. Ada Chika, Anisa, Bima, dan Christ. Nadine, Anisa, dan Bima dulu
satu kelas, di jurusan IPS. Sedangkan Chika, dia anak IPA, meskipun
kelihatannya bukan anak IPA sih, sedangkan Christ juga sekelas sama Chika,
makanya mereka jadi couple dari jaman kelas XI.
Dimulai dari Chika, dia adalah sahabat sematinya Nadine.
Mereka deket banget, soalnya sering curhat bareng, dan ngapain aja bareng.
Eits, kecuali boker sama mandi kali ya! Meskipun dulunya Chika nggak satu kelas
bahkan nggak satu jurusan sama Nadine, tapi mereka sering bareng di
ekstrakurikuler sekolah jadinya klop banget deh. Sekarang di bangku kuliah
mereka juga satu jurusan. Jurusan Pasar Senen ke Pasar Minggu? Bukan. Ya,
mereka di jurusan managemen. Jadi, Chika lintas jurusan.
Lalu ada Anisa, cewek super kalem ini pakai hijab. Dia
yang sering mengingatkan teman-temannya buat melakukan kebaikan. Alhamdulillah.
Kemudian ada Bima, teman Nadine dari jaman SD. Paling
songong dan playboy banget. Berisik banget pokoknya, sering disebut emak-emak
meskipun jenis kelaminnya literally cowok ya.
Terus ada Christ, pacarnya Chika sekaligus merangkap deh
jadi gerombolannya mereka. Dia itu cowok super sabar yang ngadepin semua
tingkah rempongnya Chika.
“Badan gue kek remuk semua, anjir,” kata Bima. Dia
merenggangkan kepalanya dan kedua tangannya seolah-oalah memang terasa capek
banget.
“Pesen makan buruan, Bim. Laper gue,” sahut Nadine.
“Setan. Lo kira gue babu lo.”
“Buruan sana, Bim.” Chika ikut-ikutan. Bima akhirnya
pasrah dan menuliskan pesanan teman-temannya.
“The real kacung gue!” Bima kemudian menuju tempat
mbak-mbak jualan dan mulai pesan beberapa makanan sesuai keinginan mereka.
“Emang!” teriak Nadine. Dari kejauhan Bima mengacungkan
jari tengahnya yang dibalas dengan Nadine yang menjulurkan lidahnya.
“Eh, by the way, temen gue mau ada yang kemari nih,” ujar
Christ.
“Siapa, beb? Kenal di mana?” Tanya Chika.
“Daffa, namanya. Anak Teknik Informatika. Dulu gue kenal
kan sering spairing futsal sama sekolahnya dia.”
“Wuihhhh, spik ah.”
“Putus kita ya, beb.”
Anisa dan Nadine yang melihat tingkah dua sejoli ini
cuman geleng-geleng kepala. Heran, udah 2 tahun pacaran tapi tingkah mereka
bikin ilfeel.
“Tuh, dateng,” kata Christ. “Woi, Daf!
Lelaki dengan postur tinggi yang dipanggil dengan nama
“Daf” alias Daffa itu menoleh ke sumber suara dan melambaikan tangannya. Lalu
menghampiri Christ. Dia datang bersama temannya.
“Sehat lo, Christ?” sapa Daffa ramah. Christ mengangguk
dan mempersilahkan Daffa untuk bergabung dengannya. Lalu Christ memperkenalkan
Daffa kepada gerombolannya. Daffa juga memperkenalkan temannya.
“Jadi, akhirnya lo masuk sini?” tanya Christ.
“Iya, gue ‘kan gap year 2 tahun. Gue mati-matian lah
belajar,” jawab Daffa.
“Mantap, bro.”
“Eh, Daffa, ini nih temen-temen gue cakep lho. Lo ada
niatan nyepik nggak?” tanya Chika. Daffa hanya meringis tanpa menjawab. Dia
mengangkat satu kakinya diatas pahanya. Kemudian mengambil sebatang rokok, lalu
dinyalakan.
“Anjir, sok ganteng banget ni cowok,” batin Nadine. Bagi
Nadine, tipe cowok sok cool kayak gini tuh bukan tipe idealnya banget. Padahal
mungkin bagi cewek-cewek lain tipe-tipe kayak Daffa itu idaman! Udah ganteng,
tinggi juga! Meskipun nggak begitu putih.
Daffa melirik sekilas ke Nadine. Sebab Nadine memandang
Daffa dengan tatapan tidak suka. Nadine membuang muka dan meminum soda-nya.
***
Nice Shin :D
BalasHapusAditya