Kamis, 13 Juni 2019

Stay; Part 1 –Dunia Kampus


/ Jadi setelah perkenalan tokoh, selanjutnya adalah langsung masuk aja ke jalan ceritanya ya. Hope you like it ya! Thanks for reading. Jangan lupa tinggalin jejak, x_x //

---

            Hujan deras mengguyur daerah yang identik terkena banjir ini. Perlahan-lahan menjadi gerimis kecil. Lalu beberapa menjadi genangan air disekitar aspal dan trotoar. Hilir mudik orang-orang berlalu-lalang tak sengaja ataupun disengaja menginjak genangan tersebut.
            Seorang gadis dengan mengenakan mantel berwarna merah itu melajukan sepeda motornya dengan kecepatan rata-rata. Dia membelokkan motornya ke kanan dan berhenti disebuah rumah bergaya Selandia itu. Kecil namun elegan.
            Dia bernama Nadine Maharani. Gadis bertubuh lumayan pendek dan kurus.
            Nadine memasuki rumahnya dan mengucapkan sepatah salam. Sepi. Begitulah sehari-harinya.
            Nadine meletakkan mantelnya ditempat jemuran kemudian duduk di sofa dan mengotak-atik smartphone-nya. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari temannya, Chika.
            “Halo, Nad?” sapa suara di ujung sana.
“Eh halo, Chik. Lo dimana, Chik? Gimana ini buat persiapan ospek besok? Lo udah siap-siapin barang-barangnya?” tanya Nadine dengan sederatan pertanyaan.
            “Eh, lo tuh ya. Gue pusing nih denger lo nanya banyak gitu. Padahal niatnya gue yang nanya.”
            Nadine nyengir. “Jadi gimana?”
            “Udah, udah gue siapin.”
            “Serius? Gue ntar malem otw rumah lo ya. Mau ngeliat semuanya.”
            “Lo belum semuanya?”
            “Belum lah. Tau sendiri gue gimana. Btw lo mau nanya apaan tadi?”
“Nggak jadi, Nad. Gue cuman mau nanya persiapan lo buat ospek besok ternyata belom.”
“Ehehehe..” Kemudian Chika memutuskan panggilannya.
            Nadine menyenderkan kepalanya di ujung sofa di ruang tamu rumahnya.
            Mulai besok, Nadine sudah saatnya untuk menjadi seorang mahasiswi. Dia merasa baru kemarin menginjakkan kaki di SMA-nya. O.K, ini terdengar lebay. Nadine merasa beruntung masih bisa kuliah, meskipun Mamanya harus membiyai SPP kuliahnya seorang diri, yang mana Mamanya hanya pegawai kantor biasa yang harus lembur demi naiknya pangkat. Ya, Mama dan Papa-nya harus bercerai dikarenakan ketika Nadine masih berumur sekitar 8 tahun, Nadine harus mendengar setiap bentakan Papa kepada Mama-nya.
Kala itu papanya Nadine jarang pulang, terkadang pulang dalam kondisi mabuk berat, bahkan beliau juga berselingkuh. Hal itu membuat Mamanya Nadine menceraikan beliau.
Belajar dari banyak hal yang menimpanya, Nadine berusaha untuk terlihat ceria, meskipun hubungan dalam keluarganya cukup buruk.
Beginilah kisah seorang gadis bernama Nadine Maharani.
***

            Nadine memarkirkan motor matic-nya di tempat parkir Fakultas Ekonomi dan Bisnis di kampusnya, Universitas Dharmabakti. Dia lumayan tercenggang dengan kondisi parkir disini. Ramai banget. Tapi, wajar saja sih, ‘kan hari ini hari pertama mahasiswa dan mahasiswi baru menjalani ospek atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus selama 6 hari.
            Nadine mengecek smartphone-nya, membuka grup Whattsapp-nya untuk melihat di mana teman-teman baru di jurusannya ini.
            “Eh, Nadine ya?” sapa seorang wanita berambut pendek.
            “Iya. Halo, Kamu siapa?”
            “Aku Meli. Managemen 2018. Aku ngeliat foto kamu di WA. Yuk, mereka udah ada di lapangan kampus. Lewat sini..”
            “Eh, ayo, Mel.”
            Nadine dan Meli melihat sekeliling. Ramai sekali. Mungkin teramat sulit untuk mencari di mana Managemen 2018 berada. Tiba-tiba ada seorang senior Pembina ospeknya menanyakan dari jurusan apa mereka. Setelah menyebutkan, mereka diarahkan di mana teman-temannya berada.
            Ospek selama 6 hari akhirnya berakhir, mulai dari keliling kampus, seminar tentang jurusannya, pengenalan UKM di kampusnya, dan sebagainya yang semuanya dimulai dari pukul 5 pagi hingga menjelang magrib.
***

            “Sumpah, gila, ini capek parah.” Nadine menghela nafas panjang. Nadine sedang berada di kantin kampus bersama dengan teman-teman dari jaman SMA-nya. Ada Chika, Anisa, Bima, dan Christ. Nadine, Anisa, dan Bima dulu satu kelas, di jurusan IPS. Sedangkan Chika, dia anak IPA, meskipun kelihatannya bukan anak IPA sih, sedangkan Christ juga sekelas sama Chika, makanya mereka jadi couple dari jaman kelas XI.
            Dimulai dari Chika, dia adalah sahabat sematinya Nadine. Mereka deket banget, soalnya sering curhat bareng, dan ngapain aja bareng. Eits, kecuali boker sama mandi kali ya! Meskipun dulunya Chika nggak satu kelas bahkan nggak satu jurusan sama Nadine, tapi mereka sering bareng di ekstrakurikuler sekolah jadinya klop banget deh. Sekarang di bangku kuliah mereka juga satu jurusan. Jurusan Pasar Senen ke Pasar Minggu? Bukan. Ya, mereka di jurusan managemen. Jadi, Chika lintas jurusan.
            Lalu ada Anisa, cewek super kalem ini pakai hijab. Dia yang sering mengingatkan teman-temannya buat melakukan kebaikan. Alhamdulillah.
            Kemudian ada Bima, teman Nadine dari jaman SD. Paling songong dan playboy banget. Berisik banget pokoknya, sering disebut emak-emak meskipun jenis kelaminnya literally cowok ya.
            Terus ada Christ, pacarnya Chika sekaligus merangkap deh jadi gerombolannya mereka. Dia itu cowok super sabar yang ngadepin semua tingkah rempongnya Chika.
            “Badan gue kek remuk semua, anjir,” kata Bima. Dia merenggangkan kepalanya dan kedua tangannya seolah-oalah memang terasa capek banget.
            “Pesen makan buruan, Bim. Laper gue,” sahut Nadine.
            “Setan. Lo kira gue babu lo.”
            “Buruan sana, Bim.” Chika ikut-ikutan. Bima akhirnya pasrah dan menuliskan pesanan teman-temannya.
            “The real kacung gue!” Bima kemudian menuju tempat mbak-mbak jualan dan mulai pesan beberapa makanan sesuai keinginan mereka.
            “Emang!” teriak Nadine. Dari kejauhan Bima mengacungkan jari tengahnya yang dibalas dengan Nadine yang menjulurkan lidahnya.
            “Eh, by the way, temen gue mau ada yang kemari nih,” ujar Christ.
            “Siapa, beb? Kenal di mana?” Tanya Chika.
            “Daffa, namanya. Anak Teknik Informatika. Dulu gue kenal kan sering spairing futsal sama sekolahnya dia.”
            “Wuihhhh, spik ah.”
            “Putus kita ya, beb.”
            Anisa dan Nadine yang melihat tingkah dua sejoli ini cuman geleng-geleng kepala. Heran, udah 2 tahun pacaran tapi tingkah mereka bikin ilfeel.
            “Tuh, dateng,” kata Christ. “Woi, Daf!
            Lelaki dengan postur tinggi yang dipanggil dengan nama “Daf” alias Daffa itu menoleh ke sumber suara dan melambaikan tangannya. Lalu menghampiri Christ. Dia datang bersama temannya.
            “Sehat lo, Christ?” sapa Daffa ramah. Christ mengangguk dan mempersilahkan Daffa untuk bergabung dengannya. Lalu Christ memperkenalkan Daffa kepada gerombolannya. Daffa juga memperkenalkan temannya.
            “Jadi, akhirnya lo masuk sini?” tanya Christ.
            “Iya, gue ‘kan gap year 2 tahun. Gue mati-matian lah belajar,” jawab Daffa.
            “Mantap, bro.”
            “Eh, Daffa, ini nih temen-temen gue cakep lho. Lo ada niatan nyepik nggak?” tanya Chika. Daffa hanya meringis tanpa menjawab. Dia mengangkat satu kakinya diatas pahanya. Kemudian mengambil sebatang rokok, lalu dinyalakan.
            “Anjir, sok ganteng banget ni cowok,” batin Nadine. Bagi Nadine, tipe cowok sok cool kayak gini tuh bukan tipe idealnya banget. Padahal mungkin bagi cewek-cewek lain tipe-tipe kayak Daffa itu idaman! Udah ganteng, tinggi juga! Meskipun nggak begitu putih.
            Daffa melirik sekilas ke Nadine. Sebab Nadine memandang Daffa dengan tatapan tidak suka. Nadine membuang muka dan meminum soda-nya.
***

1 komentar: