Jumat, 18 September 2020

Tentang Waktu

        Jika ada yang bertanya apa yang paling kusukai? Aku akan menjawab menulis.

Jika ada yang bertanya siapa yang paling kubenci? Itu ayahku.

***

Namaku Mira. Namira Kamilia. Orang bilang aku ceria. Dibuktikan dengan sikapku yang ramah dan sangat menyukai anak kecil. Mereka lucu dan menyenangkan, menurutku. Akupun sangat menyayangi mereka.

Tapi sayangnya, aku bahkan tidak mendapat kasih sayang dari Ayahku, sejak Ayah dan Ibuku bercerai. Ayahku berubah menjadi pribadi yang keras, dia bahkan sering memukuliku.

Apakah aku selalu sedih? Tidak, aku bahkan selalu tegar. Atau apakah aku akan melawan Ayahku? Kubiarkan dia memukulku, karena beberapa kali Ayahku mengancam akan membunuhku. Tentu saja untuk gadis berumur 15 tahun sepertiku sangat ketakutan, bukan.

“Mira,” panggil Ayah.

“Iya, Yah?” Ayahku menyadarkanku dari lamunan. Aku bergegas menemuinya.

***

Hari yang cerah. Aku memutuskan hari Sabtu ini untuk pergi ke Perpustakaan Daerah. Aku memang sangat suka membaca buku. Terlebih jika ke bagian tempat bacaan anak-anak kecil. Asyik sekali mengobrol dan mendongeng bersama.

Aku bergegas pergi menuju ke Perpustakaan Daerah menggunakan bus. Sesampainya disana kulihat banyak anak-anak tengah membaca buku bergambar. Wah, ternyata mereka adalah rombongan anak-anak TK yang sedang belajar sekaligus bermain di perpustakaan.

Aku meminta kepada salah satu guru TK untuk menemani anak-anak. Guru TK itu mengiyakan. Kusapa salah satu anak berambut pendek dengan poni tipis. Sangat menggemaskan. Cia, namanya.

“Cia suka sama yang mana?” Aku bertanya sambil menunjukkan beberapa gambar-gambar binatang.

“Aku suka kupu-kupu. Cantik.”

“Wah, kakak juga suka. Cia tau nggak kupu-kupu itu asalnya dari apa?”

Cia menggeleng.

“Dari kepompong, terus tumbuh besar jadi kupu-kupu.” Cia mulai antusias dan mendengarkan ocehanku.

Tak terasa sudah 1 jam lebih aku menemani anak-anak TK bermain dan membaca di perpustakaan. Ibu guru TK justru berterima kasih denganku, sebab katanya mereka sedang kewalahan karena rekannya ada yang berhalangan hadir.

Aku bergegas meninggalkan ruangan baca anak-anak dan mengunjungi ruangan baca umum. Aku mencari bangku kosong di dekat jendela. Kuambil buku catatan kecil dari tas. Aku menuangkan bait demi bait untuk tulisanku. Ah, menyenangkan sekali memandang tumpukan rak-rak buku sambil menulis cerita.

Terkadang aku berpikir, entah tulisanku bagus ataupun tidak tapi aku tetap suka menulis. Bukankah menulis itu hobi yang murah dan tidak merugikan orang lain?

***

Cerita anak yang telah kubuat kurang lebih selama 1 bulan akhirnya selesai. Aku berencana akan mengirimkan tulisan ini pada penerbit. Tekadku sudah bulat.

Bahkan aku harus membuat cerita anak ini dengan menggunakan buku. Pasalnya aku tidak memiliki laptop untuk mengetik cerita. Eh, sebenarnya Ayahku mempunyai laptop, tapi aku bahkan tidak berani untuk meminjamnya. Jadi kutulis di buku terlebih dahulu, barulah ku ketik di komputer yang ada di Warnet. 

Selesai mandi, aku bergegas akan berangkat. Tunggu, flashdisk berisi file tulisanku dimana? Aku mencari dimana-mana tapi hasilnya nihil. Tak kutemukan dimanapun barang kecil tersebut.

Aku dengan ragu bertanya pada Ayahku. Memang aku mengobrol dengan Ayah jika dia yang memulainya lebih dulu. Tapi kuberanikan diri untuk bertanya. Dan dengan entengnya dia menjawab, “Oh, tadi Ayah pinjam. Tapi malah Ayah lupa naruh dimana.”

“Yah, itu isi file penting.”

“File apa sih? Kan kamu bisa buat lagi.” Ayahku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya dengan korek api.

“Cerita anak, Yah.” Aku sedih sekali rasanya. “Ah, tunggu. Di hp ku.”

Aku mencari di smartphone-ku dan hasilnya nihil, sudah dihapus.

“Apa Ayah sengaja menghapusnya?”

“Kalau iya kenapa?” Ayahku justru membentak dan meninggalkanku sendirian.

***

Aku memutuskan untuk menulis cerita lagi. Sekitar beberapa minggu akhirnya cerita selesai dibuat.

“Mira…” panggil Ayah dari ruang makan.

Aku yang sedang membaca ulang naskah cerita yang sudah di print sambil mendengarkan lagu lewat earphone, tidak mendengar panggilan dari Ayah.

Ayah bergegas menghampiriku di kamar.

“Kamu nulis lagi?” Ayah bertanya dengan nada ketus.

“Iya, yah. Abis Mira kan pengen jadi penulis, Yah.”

Mendengar bahwa aku ingin menjadi penulis, Ayah semakin geram. Kali ini Ayah dengan sengaja membakar naskah yang telah jadi. Dia juga menghapus file berisi cerita tersebut.

Aku sebenarnya bingung dengan sikap Ayah. Hanya saja satu hal yang kuketahui. Ayah sangat membenci diriku yang suka menulis. Pasalnya ibuku dulu adalah seorang penulis novel, tapi ayah dan ibu telah bercerai. Ibuku lebih memilih pria lain. Ayah sangat tidak menyukai hal itu. Ya, sebenarnya Ayah memiliki rasa kehilangan yang teramat sangat. Oleh sebab itu, dia lampiskan padaku.

***

Bulan demi bulan berganti, aku menjadi semakin pemurung. Hatiku sakit sekali diperlakukan seperti itu oleh Ayah.

Tapi aku tetap menulis lagi. Tapi apalah daya, kali ini apa yang Ayah lakukan dengan naskahku? Dia justru merobek naskah tersebut di depanku. Emosiku kali ini tidak bisa tertahankan.

“Kenapa Ayah jahat banget sih? Ayah boleh pukul Mira atau nggak kasih uang saku ke Mira, asalkan Mira boleh jadi penulis dan boleh buat nulis terus.” Aku menangis. Selama ini aku bahkan tidak bisa meluapkan emosi di depan Ayah, saking takutnya.

Ayahku tersentak. Dia seperti ingin menenangkan diriku,  tapi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ayahku merasa bersalah.

Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, Ayahku mulai berubah sikap padaku. Dia mulai bersikap baik denganku. Aku kaget sekaligus senang sekali dengan perubahan sikap Ayah, terlebih yang membolehkanku untuk menulis. Bahkan aku dipinjamkan laptop oleh Ayah untuk menulis.

Bahkan manusiapun bisa berubah. Dengan hal-hal sekecil apapun bisa membuat hati manusia tersentuh. Memang ketulusan hati pasti akan bermakna. Entah itu kapan. Entah 1 tahun, 10 tahun, atau bahkan bertahun-tahun. Hanya saja timing-nya pasti berbeda. Ini hanya masalah waktu.

Kalau ada orang bertanya apa yang paling kubenci? Aku akan menjawab, tidak tahu.

Kalau ada orang bertanya siapa yang paling sukai? Aku akan menjawab, itu Ayahku.

-----------------

SELESAI

Senin, 13 April 2020

Ur choice?

Terkadang heran melihat orang-orang yang bertindak semua mereka sendiri.
Ingin memusnahkan orang-orang seperti itu.
Menurutku sangat childish di umur mereka yang terbilang sudah tidak muda lagi.
Setiap orang pasti pernah berbuat salah.
I know. I do the same.
Tapi jika terus menerus itu namanya apa?
Sungguh tidak paham rasanya.
Lakukan hal yang memang menjadi tanggung jawabmu.
Apa salahnya sih?
Lima menit saja.
Apa mereka tidak pernah berfikir nantinya?
Apa mereka tidak pernah merasa tidak enak hati?
Kurasa tidak.
Apa mereka tidak tahu disini sudah berusaha mati-matian?
Ah, salah.
Mungkin aku terlalu berlebihan.
Kita manusia.
Sama-sama belajar.
I know right.
Tapi kembali lagi, kita sudah dewasa.
Aku terdengar egois?
Mengapa tidak?
Aku sudah berusaha.
Whatever you choice is your responsibility.
Please do it.
Don't make it many reason.
Ya, ya, aku terlalu kasar malam ini.
Lagipula ini pun sebagai cermin bagi diriku.
Untuk kedepannya, aku akan berusaha.
Setidaknya aku berusaha lebih baik.
Kamupun begitu?
Mari bersama-sama.
Ayunkan tangan untuk kearah lebih baik, apa salahnya?

14 April 2020, 01.37 AM

Abu-abu.

Malam ini, aku terlalu berfikir.
Entah mungkin ini kebodohanku.
Lagi lagi aku menyalahkan diriku.
Dan keadaan?
Aku menyesal sampai membuatku gila.
Aku menangis setiap mendengar lagu-lagu mellow berhubungan dengan asa lama itu.
Aku merutuki diriku sendiri setiap malam.
Saat aku sendirian.
Aku..
Dan kebodohanku.
Mungkin terdengar berlebihan.
Tapi aku sampai sesak bahkan tak bisa berkata-kata.
Susah sekali untuk berlabuh lagi.
Mungkinkah ini hanya sebatas perasaan semu?
Mungkinkah ini hanya sebatas penyesalan?
Bukan cinta yang dulu kualami?
Cinta pertama.
Orang bilang, "jangan terlalu terikat dengan cinta pertamamu terlalu lama".
Kamu benar.
Saatnya aku 'berpetualang lagi'.
Tetapi pikiranku kosong.
Abu-abu.
Bahkan aku tak mempercayai lagi apa itu cinta.
Kesedihan.
Penyesalan.
Yang kutahu hanyalah itu.
Sesak dadaku.
Mengapa aku sebodoh itu?
Hati kecilku berbisik, "itu kebodohanmu saat puber, tak masalah."
Separuh hatiku menggumam, "kamu terlalu gegabah. Itulah akibatmu!"
Tuhan,
Mengapa kau mengutukku?
Aku ingin berhenti tapi aku rasa..
Sesukar itu.
Tetesan air mata kembali mengalir.
Bolehkah aku mengulang hidupku di masa itu?
Ah, kamu pikir kamu hidup di dunia fiksi?
Fiksi wattpad? Atau novel teenlit?
Aku meronta.
Cukup kesedihan untuk malam ini.
Mugkin sang koala sedang puas melihat aku dan kerapuhanku.
Seharusnya aku menjadi dewasa,
Dengan segala hal yang kulalui.
Kuharap begitu.
Suatu saat nanti.
Entah kapan terjadi.

Aku,
11 April 2020
01.09 AM

Senin, 02 September 2019

Pilihan.

Hidup itu pilihan. Sama seperti cinta. Yang mana kita dihadapkan pada suatu hal untuk memilih. Memilih untuk mencintai yang 'baru'; atau tetap setia pada yang 'lama'. Yang baru biasanya terlihat lebih indah, mungkin. Karena terkadang aku menghadap takdir yang mengharuskanku untuk meninggalkan yang lama. Yang lama bukan berarti sudah tak lagi menarik, atau sudah tak lagi berarti, hanya saja aku sudah tak memiliki hak walau untuk sekadar menanyakan kabarnya. Tak apa. Hidupku tetap kujalani dengan apa adanya. Entah dengan siapa aku sekarang, atau walaupun aku tak bersama siapa-siapa, aku yakin aku tetap bahagia.

Bna, 16 Mei 2018.

Kamis, 15 Agustus 2019

Jatuh Hati atau Patah Hati


Cerpen ini dibuat tahun lalu dan pernah diikutsertakan dalam lomba Literasi Kita, tapi cuman jadi 'kontributor terpilih' :') 
Happy reading, chingudeul. Semoga suka meskipun masih newbie. :)

---

Jatuh Hati atau Patah Hati

            Secercah langit berwarna kemerahan menyapa indahnya sore. Menyejukkan hati siapapun yang melihatnya. Seakan menggambarkan suasana yang tegas namun menyejukkan.
            Lain halnya dengan gadis kurus dan tinggi dengan kacamata yang menggantung di daun telinganya. Dia terduduk lemas dengan wajah yang suntuk di depan kelas salah satu perguruan tinggi. Dia terlihat sedang menanggung banyak masalah. Jika memandangnya pastilah akan terbawa badmood juga.
            Kirana, namanya. Dia kemudian bangkit dari duduknya sambil menenteng beberapa buku bacaan. Sedari tadi rupanya dia merisaukan jika lelaki yang didambakannya justru tengah asyik bercengkrama dengan wanita lain.
            Suka? Jelas, atau bahkan lebih. Sepertinya Kirana memang menyukainya. Kepribadiannya serta wajahnya yang memang sangat tampan.
            Kirana mengenalnya sejak lelaki itu berada di Unit Kegiatan Mahasiswa yang bersama dengannya sejak semester 1. Namun, lelaki itu sangat acuh dengan Kirana.
            Entahlah, Kirana masih saja menyukainya. Hingga kini.
***

            Kirana berjalan memasuki taman di fakultasnya. Ia duduk di salah satu bangku yang suasananya rindang sebab disekitarnya ditumbuhi pohon-pohonan. Semilir angina membuatnya tenang dan larut dalam kesendirian. Ia mengangkat kepalanya dan dalam beberapa saat ia menghembuskan nafasnya perlahan-lahan.
            “Hey Na. Kamu ada acara nanti malem nggak?” Tanya lelaki bertubuh tinggi yang tiba-tiba duduk disamping Kirana.
            Kirana terkejut cukup lama. Namun kemudian ia tersadar dengan suara deheman lelaki tersebut. “Eh, iya? Gimana Vid?”
Lelaki itu adalah David. Orang yang disukai Kirana tiba-tiba mengajaknya ‘kencan’. Entahlah ini bisa disebut kencan atau bukan. Yang terpenting untuk saat ini adalah jantungnya. Ia sangat tidak karuan untuk saat. Mengingat sikap David yang mendadak berubah 180 derajat ini.
Konyol banget nggak, sih? Cowok cuek kayak gini. Batinnya.
            “Mau nggak, Na? Ntar kita ketemuan ya di Pinastika Resto dan Café ya.”
            Kirana mengangguk tanda setuju.
Entahlah, seketika Kirana mendadak hidupnya berubah.
***

            Ketika dirimu dipertemukan dengan dua hal. Antara memilih untuk bertahan atau berhenti. Bertahan untuk terus memperjuangkan dia. Atau berhenti, melupakan segalanya tentangnya. Dua hal yang berlawanan.
            Cukup pelik memikirkan yangmana yang harus dipilih. Kembali lagi kepada kata hati kita. Mana yang harus dipilih?
            Jika memang harus bertahan. Apakah konsekuensinya berat? Apakah dia juga akan balik memperjuangkan kita? Atau justru dia berpaling pada yang lebih dari dirimu? Ibaratnya, hanya bermain-mana saja dengan dirimu?
            Berbagai hal menggelayut di pikiran Kirana.
***

            Kini Kirana duduk berhadapan dengan David. Beberapa kali Kirana merubah posisi duduknya. Merasa tidak nyaman. Entahlah, ini sangat canggung, teman-teman!
            “Kamu mau pesen apa, Na?”
            “Samain aja kayak kamu, deh.”
            “Oh, oke. Kamu nggak papa kan, aku ajak jalan-jalan gini?” Tanya David.
            “It’s O.K.” jawab Kirana mulai mencoba terlihat biasa saja.
            Akhirnya mereka mulai mengobrol satu sama lain, dan mulai akrab. Kemudian David berkata, “Maaf ya, Na, aku sering cuek ke kamu.”
            Kirana terdiam dan tak membalas ucapan David.
***

            Semenjak kejadian itu, Kirana dan David semakin kerap bertemu. Ya, mereka memang sering bertemu. Namun hanya di UKM yang mereka ikuti. Namun kali ini, diluar kampus saja mereka cukup sering bertemu. Seperti ke café bersama, ke perpustakaan bersama, bahkan olahraga untuk sekadar jogging pun bersama hingga Kirana dan David pun terkadang saling mengunjungi rumah masing-masing.
Kini pandangan Kirana terhadap David berubah. Ia mengakui bahwa David memang orang yang menyenangkan, nyambung diajak bicara, dan cukup humoris. David yang cuek adalah panggilan untuknya ketika Kirana belum akrab dengannya.
            “Vid? Kamu bisa cariin buku ini nggak? Kirana yang masuk dijurusan Sosiologi ini meminta tolong pada David.
            David berpikir sejenak, “Kamu tuh aneh ya, Na. Aku ‘kan, jurusan Hubungan Internasional. Kamu nyuruh aku cariin buku Sosial. Hehehe.”
            “Ya udah sih, kalau nggak mau.” Kirana sudah mentok banget. Tugasnya menumpuk dan Kirana sebenarnya bukan tipe orang yang ingin meminta bantuan, namun entahlah kepada David ia justru ingin David menolongnya.
            “Ok. Aku cariin. Tapi nanti malem temenin aku jalan-jalan ya.”
***

            Drtt.. drtt… Ponsel Kirana bergetar tanda ada pesan Whatssapp masuk.
            “Kirana, aku udah di depan rumah kamu.”
            Kirana lalu keluar dari rumahnya dan segera menemui David. David memandangnya sebentar kemudian bergumam, “Sangat cantik.”
            Kemudian mereka berjalan-jalan ke acara perayaan Malam Tahun Baru. Mereka membeli beberapa makanan. Dan berbagi cerita. Mereka saling tersenyum dan berfoto bersama. Layaknya pasangan yang tengah bergembira.
Ketika mengantar Kirana pulang, David berkata, “Na, makasih ya, buat hari ini.” Ia tersenyum manis.
Kirana membalas senyumannya. “Iya, Vid.”
David tiba-tiba menggenggam tangan Kirana.
Untuk pertama kalinya, Kirana merasa dirinya adalah wanita paling bahagia. Apakah ia merasa semakin jatuh hati dengan lelaki dihapadannya ini?
***

            Kirana melamun di kantin fakultasnya. Ia duduk seorang diri sambil mengaduk-aduk baksonya. Padahal biasanya jika ia dihadapkan dengan bakso, yangmana merupakan makanan favoritnya, ia akan langsung melahapnya. Namun kini ia tak berselera makan.
            Sudah hampir 1 bulan David tidak mehubunginya. Pernah ia nge-chat saja tak ada respon.  Tunggu, ketika tak sengaja berpapasan di kampus saja David melengos dan pergi.
            Kirana tidak seberani itu untuk mengunjungi rumah David, dan menanyakan mengapa tiba-tiba sikap David berubah? Lagi?
            Apa salah Kirana? Apa Kirana membuatnya tak nyaman? Ataukah Kirana hanya sekadar ‘tempat’ untuk melampiaskan rasa bosannya saja? Sesakit itukah?
            Kirana menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh. Ia tidak mengerti mengapa ditinggal oleh orang yang tiba-tiba dekat dengannya adalah hal sesakit ini.
            Kirana bergumam. Untuk apa? Untuk apa David mengunjungi hatinya jika hanya dalam waktu hitungan detik?
***

            “Kirana, gue ada kabar baru. Lo mau tau nggak?” Tanya Citra dengan hati-hati. Citra adalah teman yang paling dekat dengannya di kampus.
            Kirana merubah posisi duduknya. “Eh, Citra. Ada apa , Cit?”
            “Tapi gue nggak enak ngomongnya, Na.” Citra tersenyum masam.
            “It’s OK. Ngomong aja.”
            “Lo tau Laura? Anak fakultas Sastra yang terkenal itu?” Kirana mengingat-ingat kemudian mengangguk.
            “David ngelamar Laura kemarin.”
            Tenggorokan Kirana tercekat. Entahlah untuk beberapa saat ia terdiam dan ia tak mendengar ada suara apa-apa. Pikirannya kosong. Kemudian ia berpamitan pada Citra untuk pulang.
            Untuk beberapa hal, Kirana ingin sendirian. Dengan kabar yang melumpuhkan harapannya. Dengan kenyataan yang miris ini. Dengan realita yang membuat hatinya sakit hati.
***

            Dalam hidup, ada kalanya hal yang tak terduga datang menimpa. Entah hal itu menyenangkan atau menyesakkan hati. Semuanya telah diatur oleh Sang Pencipta.
            Apa yang bisa kita lakukan? Merubahnya? Semudah itukah?
            Helaan napas cukup panjang tandanya ini sangat berat. Gumaman cukup keras menandakan beban yang diembannya semakin banyak. Air mata yang membanjiri kedua pipi mengartikan bahwa yang dirasakan adalah kesedihan yang mendalam.
            Tak mampu. Dua kata yang jelas dan menandakan bahwa benar-benar tak bisa.
            Ya, Kirana hanya bisa merelakan. Lelakinya direbut oleh wanita lain. Entah ini direbut adalah kata yang pas atau tidak. Oh, tunggu. Atau lebih tepatnya, pergi? Benar. Lelaki itu pergi bersama wanita lain.
            Perlahan menghapus kenangan antara Kirana dengan dirinya. Entah itu benar-benar dari hatinya atau… ah sudahlah. Berat sekali bahkan untuk mengungkapkan.
            Memejamkan mata. Berharap esok hari akan ada yang lebih baik. Begitukah? Akan ada tangan lain yang mengenggamnya dan berkata, patah hati bukan akhir dari segalanya. Mari bangkit kembali dan mulailah menata hati. Agar tidak sia-siakan hidup ini. Hidup masih panjang, dan biarkan rasa ini hilang seiring berjalannya kehidupan ini.
            Relakan dan bangkitlah. Percaya bahwa akan kau temukan kembali lelaki lain yang jauh lebih dari dirinya. Yang mampu bersamamu apa adanya. Menuntunmu hingga ke jalan Surga. Dan membuatmu lupa akan patah hati itu apa?

----

Senin, 05 Agustus 2019

Stop being 'body shaming'.


          Kali ini gue mau curhat seputar harga diri. Di beberapa forum atau lingkungan gue sering denger orang mengomentari bentuk tubuh orang. Sebenarnya apa sih, motif dari dia 'body shaming'?
           Sejatinya, setiap orang terlahir dengan ciri-cirinya masing, kerpibadiannya masing-masing, dan bentuk tubuhnya masing-masing. Tapi gue sering nemuin orang-orang yang menganggap remeh soal 'ih, kok lo pendek banget si?'. 'kok lo jerawatan si?'. Atau 'kok lo makin gemukan sih?'. Mungkin untuk sebagian orang, mereka menganggap ini bercanda. Helo, bercanda darimana? Jelas-jelas untuk orang yang sentimental, termasuk gue dan beberapa yang lainnya ini nusuk banget gila.
            Kadang gue nggak masalah kalau orang yang ngebody shaming itu akrab sama gue, tapi kalau bukan rekan akrab gue, jujur gue marah banget. Ok, mungkin itu terkesan bercanda. Tapi beberapa hal itu bikin kita down banget. Kepikiran dan emosi.
            Tapi itu kenyataan saat ini, orang-orang selalu ngehina orang jika orang itu terlihat nggak oke, nggak cantik, nggak tinggi, gendutan. Beberapa faktor itu menurut gue terjadi karena setiap hari, oh bukan, setiap menitnya mereka dicekoki akan hal-hal yang 'cantik' ala selebgram di instagram. Jadi ketika ngelihat orang yang pendek misalnya, langsung pengen komen. Stop being this. Cukup diem aja deh. Apalagi kalau cara ngomongnya nyakitin. It's being annoying for many people. Termasuk gue.
            Gue nggak nganggap diri gue suci banget. Gue juga sering komenin orang gitu. tapi gue nggak ngehina langsung, gue nggak body shaming-in langsung. Bukankah orang itu akan sakit hati dan nggak pd? Mungkin ada beberapa yang nggak masalah, tapi sebagian besar menganggap itu masalah! Seenggaknya gue pribadi selalu ngeyakinin diri gue, kalau ada yang nggak oke yaudah gue diem aja. Nggak harus dihina nggak harus di body shaming-in, 'kan?
            Setiap orang udah ada jalannya masing-masing. Tinggal kita mau bersyukurnya kayak gimana. Kita disini sama-sama belajar. Gue bukan merasa paling baik, tapi gue cuman mencurahkan isi hati, supaya ayo kita bareng-bareng, jangan sering ngebody shaming-in orang. Itu nggak baik, buat kalian, buat gue, dan buat si 'korban'. Jadi diri kamu sendiri, nggak usah iri dia lebih oke penampilannya atau gimana.
Selalu bersyukur, selalu terima apapun yang Allah kasih karena itu yang terbaik. Kita mau apalagi sih? Wajah cantik, tinggi dan kurus, atau kulit bening? Sudahlah. Justru kita setiap hari diberi kesehatan sama Allah harusnya itu yang paling bikin kita harus bersyukur. Yuk, kita berbenah diri. :)


Bna, 31 Juli 2019

Kamis, 13 Juni 2019

Stay; Part 1 –Dunia Kampus


/ Jadi setelah perkenalan tokoh, selanjutnya adalah langsung masuk aja ke jalan ceritanya ya. Hope you like it ya! Thanks for reading. Jangan lupa tinggalin jejak, x_x //

---

            Hujan deras mengguyur daerah yang identik terkena banjir ini. Perlahan-lahan menjadi gerimis kecil. Lalu beberapa menjadi genangan air disekitar aspal dan trotoar. Hilir mudik orang-orang berlalu-lalang tak sengaja ataupun disengaja menginjak genangan tersebut.
            Seorang gadis dengan mengenakan mantel berwarna merah itu melajukan sepeda motornya dengan kecepatan rata-rata. Dia membelokkan motornya ke kanan dan berhenti disebuah rumah bergaya Selandia itu. Kecil namun elegan.
            Dia bernama Nadine Maharani. Gadis bertubuh lumayan pendek dan kurus.
            Nadine memasuki rumahnya dan mengucapkan sepatah salam. Sepi. Begitulah sehari-harinya.
            Nadine meletakkan mantelnya ditempat jemuran kemudian duduk di sofa dan mengotak-atik smartphone-nya. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari temannya, Chika.
            “Halo, Nad?” sapa suara di ujung sana.
“Eh halo, Chik. Lo dimana, Chik? Gimana ini buat persiapan ospek besok? Lo udah siap-siapin barang-barangnya?” tanya Nadine dengan sederatan pertanyaan.
            “Eh, lo tuh ya. Gue pusing nih denger lo nanya banyak gitu. Padahal niatnya gue yang nanya.”
            Nadine nyengir. “Jadi gimana?”
            “Udah, udah gue siapin.”
            “Serius? Gue ntar malem otw rumah lo ya. Mau ngeliat semuanya.”
            “Lo belum semuanya?”
            “Belum lah. Tau sendiri gue gimana. Btw lo mau nanya apaan tadi?”
“Nggak jadi, Nad. Gue cuman mau nanya persiapan lo buat ospek besok ternyata belom.”
“Ehehehe..” Kemudian Chika memutuskan panggilannya.
            Nadine menyenderkan kepalanya di ujung sofa di ruang tamu rumahnya.
            Mulai besok, Nadine sudah saatnya untuk menjadi seorang mahasiswi. Dia merasa baru kemarin menginjakkan kaki di SMA-nya. O.K, ini terdengar lebay. Nadine merasa beruntung masih bisa kuliah, meskipun Mamanya harus membiyai SPP kuliahnya seorang diri, yang mana Mamanya hanya pegawai kantor biasa yang harus lembur demi naiknya pangkat. Ya, Mama dan Papa-nya harus bercerai dikarenakan ketika Nadine masih berumur sekitar 8 tahun, Nadine harus mendengar setiap bentakan Papa kepada Mama-nya.
Kala itu papanya Nadine jarang pulang, terkadang pulang dalam kondisi mabuk berat, bahkan beliau juga berselingkuh. Hal itu membuat Mamanya Nadine menceraikan beliau.
Belajar dari banyak hal yang menimpanya, Nadine berusaha untuk terlihat ceria, meskipun hubungan dalam keluarganya cukup buruk.
Beginilah kisah seorang gadis bernama Nadine Maharani.
***

            Nadine memarkirkan motor matic-nya di tempat parkir Fakultas Ekonomi dan Bisnis di kampusnya, Universitas Dharmabakti. Dia lumayan tercenggang dengan kondisi parkir disini. Ramai banget. Tapi, wajar saja sih, ‘kan hari ini hari pertama mahasiswa dan mahasiswi baru menjalani ospek atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus selama 6 hari.
            Nadine mengecek smartphone-nya, membuka grup Whattsapp-nya untuk melihat di mana teman-teman baru di jurusannya ini.
            “Eh, Nadine ya?” sapa seorang wanita berambut pendek.
            “Iya. Halo, Kamu siapa?”
            “Aku Meli. Managemen 2018. Aku ngeliat foto kamu di WA. Yuk, mereka udah ada di lapangan kampus. Lewat sini..”
            “Eh, ayo, Mel.”
            Nadine dan Meli melihat sekeliling. Ramai sekali. Mungkin teramat sulit untuk mencari di mana Managemen 2018 berada. Tiba-tiba ada seorang senior Pembina ospeknya menanyakan dari jurusan apa mereka. Setelah menyebutkan, mereka diarahkan di mana teman-temannya berada.
            Ospek selama 6 hari akhirnya berakhir, mulai dari keliling kampus, seminar tentang jurusannya, pengenalan UKM di kampusnya, dan sebagainya yang semuanya dimulai dari pukul 5 pagi hingga menjelang magrib.
***

            “Sumpah, gila, ini capek parah.” Nadine menghela nafas panjang. Nadine sedang berada di kantin kampus bersama dengan teman-teman dari jaman SMA-nya. Ada Chika, Anisa, Bima, dan Christ. Nadine, Anisa, dan Bima dulu satu kelas, di jurusan IPS. Sedangkan Chika, dia anak IPA, meskipun kelihatannya bukan anak IPA sih, sedangkan Christ juga sekelas sama Chika, makanya mereka jadi couple dari jaman kelas XI.
            Dimulai dari Chika, dia adalah sahabat sematinya Nadine. Mereka deket banget, soalnya sering curhat bareng, dan ngapain aja bareng. Eits, kecuali boker sama mandi kali ya! Meskipun dulunya Chika nggak satu kelas bahkan nggak satu jurusan sama Nadine, tapi mereka sering bareng di ekstrakurikuler sekolah jadinya klop banget deh. Sekarang di bangku kuliah mereka juga satu jurusan. Jurusan Pasar Senen ke Pasar Minggu? Bukan. Ya, mereka di jurusan managemen. Jadi, Chika lintas jurusan.
            Lalu ada Anisa, cewek super kalem ini pakai hijab. Dia yang sering mengingatkan teman-temannya buat melakukan kebaikan. Alhamdulillah.
            Kemudian ada Bima, teman Nadine dari jaman SD. Paling songong dan playboy banget. Berisik banget pokoknya, sering disebut emak-emak meskipun jenis kelaminnya literally cowok ya.
            Terus ada Christ, pacarnya Chika sekaligus merangkap deh jadi gerombolannya mereka. Dia itu cowok super sabar yang ngadepin semua tingkah rempongnya Chika.
            “Badan gue kek remuk semua, anjir,” kata Bima. Dia merenggangkan kepalanya dan kedua tangannya seolah-oalah memang terasa capek banget.
            “Pesen makan buruan, Bim. Laper gue,” sahut Nadine.
            “Setan. Lo kira gue babu lo.”
            “Buruan sana, Bim.” Chika ikut-ikutan. Bima akhirnya pasrah dan menuliskan pesanan teman-temannya.
            “The real kacung gue!” Bima kemudian menuju tempat mbak-mbak jualan dan mulai pesan beberapa makanan sesuai keinginan mereka.
            “Emang!” teriak Nadine. Dari kejauhan Bima mengacungkan jari tengahnya yang dibalas dengan Nadine yang menjulurkan lidahnya.
            “Eh, by the way, temen gue mau ada yang kemari nih,” ujar Christ.
            “Siapa, beb? Kenal di mana?” Tanya Chika.
            “Daffa, namanya. Anak Teknik Informatika. Dulu gue kenal kan sering spairing futsal sama sekolahnya dia.”
            “Wuihhhh, spik ah.”
            “Putus kita ya, beb.”
            Anisa dan Nadine yang melihat tingkah dua sejoli ini cuman geleng-geleng kepala. Heran, udah 2 tahun pacaran tapi tingkah mereka bikin ilfeel.
            “Tuh, dateng,” kata Christ. “Woi, Daf!
            Lelaki dengan postur tinggi yang dipanggil dengan nama “Daf” alias Daffa itu menoleh ke sumber suara dan melambaikan tangannya. Lalu menghampiri Christ. Dia datang bersama temannya.
            “Sehat lo, Christ?” sapa Daffa ramah. Christ mengangguk dan mempersilahkan Daffa untuk bergabung dengannya. Lalu Christ memperkenalkan Daffa kepada gerombolannya. Daffa juga memperkenalkan temannya.
            “Jadi, akhirnya lo masuk sini?” tanya Christ.
            “Iya, gue ‘kan gap year 2 tahun. Gue mati-matian lah belajar,” jawab Daffa.
            “Mantap, bro.”
            “Eh, Daffa, ini nih temen-temen gue cakep lho. Lo ada niatan nyepik nggak?” tanya Chika. Daffa hanya meringis tanpa menjawab. Dia mengangkat satu kakinya diatas pahanya. Kemudian mengambil sebatang rokok, lalu dinyalakan.
            “Anjir, sok ganteng banget ni cowok,” batin Nadine. Bagi Nadine, tipe cowok sok cool kayak gini tuh bukan tipe idealnya banget. Padahal mungkin bagi cewek-cewek lain tipe-tipe kayak Daffa itu idaman! Udah ganteng, tinggi juga! Meskipun nggak begitu putih.
            Daffa melirik sekilas ke Nadine. Sebab Nadine memandang Daffa dengan tatapan tidak suka. Nadine membuang muka dan meminum soda-nya.
***