Cerpen ini dibuat tahun lalu dan pernah diikutsertakan dalam lomba Literasi Kita, tapi cuman jadi 'kontributor terpilih' :')
Happy reading, chingudeul. Semoga suka meskipun masih newbie. :)
---
Jatuh Hati atau Patah Hati
Secercah
langit berwarna kemerahan menyapa indahnya sore. Menyejukkan hati siapapun yang
melihatnya. Seakan menggambarkan suasana yang tegas namun menyejukkan.
Lain
halnya dengan gadis kurus dan tinggi dengan kacamata yang menggantung di daun
telinganya. Dia terduduk lemas dengan wajah yang suntuk di depan kelas salah
satu perguruan tinggi. Dia terlihat sedang menanggung banyak masalah. Jika
memandangnya pastilah akan terbawa badmood
juga.
Kirana,
namanya. Dia kemudian bangkit dari duduknya sambil menenteng beberapa buku
bacaan. Sedari tadi rupanya dia merisaukan jika lelaki yang didambakannya
justru tengah asyik bercengkrama dengan wanita lain.
Suka?
Jelas, atau bahkan lebih. Sepertinya Kirana memang menyukainya. Kepribadiannya
serta wajahnya yang memang sangat tampan.
Kirana
mengenalnya sejak lelaki itu berada di Unit Kegiatan Mahasiswa yang bersama
dengannya sejak semester 1. Namun, lelaki itu sangat acuh dengan Kirana.
Entahlah,
Kirana masih saja menyukainya. Hingga kini.
***
Kirana
berjalan memasuki taman di fakultasnya. Ia duduk di salah satu bangku yang
suasananya rindang sebab disekitarnya ditumbuhi pohon-pohonan. Semilir angina membuatnya
tenang dan larut dalam kesendirian. Ia mengangkat kepalanya dan dalam beberapa
saat ia menghembuskan nafasnya perlahan-lahan.
“Hey
Na. Kamu ada acara nanti malem nggak?”
Tanya lelaki bertubuh tinggi yang tiba-tiba duduk disamping Kirana.
Kirana
terkejut cukup lama. Namun kemudian ia tersadar dengan suara deheman lelaki
tersebut. “Eh, iya? Gimana Vid?”
Lelaki itu adalah
David. Orang yang disukai Kirana tiba-tiba mengajaknya ‘kencan’. Entahlah ini
bisa disebut kencan atau bukan. Yang terpenting untuk saat ini adalah jantungnya.
Ia sangat tidak karuan untuk saat. Mengingat sikap David yang mendadak berubah
180 derajat ini.
Konyol banget nggak, sih? Cowok cuek kayak gini. Batinnya.
“Mau
nggak, Na? Ntar kita ketemuan ya di Pinastika
Resto dan Café ya.”
Kirana
mengangguk tanda setuju.
Entahlah, seketika
Kirana mendadak hidupnya berubah.
***
Ketika
dirimu dipertemukan dengan dua hal. Antara memilih untuk bertahan atau
berhenti. Bertahan untuk terus memperjuangkan dia. Atau berhenti, melupakan
segalanya tentangnya. Dua hal yang berlawanan.
Cukup
pelik memikirkan yangmana yang harus dipilih. Kembali lagi kepada kata hati
kita. Mana yang harus dipilih?
Jika
memang harus bertahan. Apakah konsekuensinya berat? Apakah dia juga akan balik
memperjuangkan kita? Atau justru dia berpaling pada yang lebih dari dirimu?
Ibaratnya, hanya bermain-mana saja dengan dirimu?
Berbagai
hal menggelayut di pikiran Kirana.
***
Kini
Kirana duduk berhadapan dengan David. Beberapa kali Kirana merubah posisi
duduknya. Merasa tidak nyaman. Entahlah, ini sangat canggung, teman-teman!
“Kamu
mau pesen apa, Na?”
“Samain
aja kayak kamu, deh.”
“Oh,
oke. Kamu nggak papa kan, aku ajak jalan-jalan gini?” Tanya David.
“It’s
O.K.” jawab Kirana mulai mencoba terlihat biasa saja.
Akhirnya
mereka mulai mengobrol satu sama lain, dan mulai akrab. Kemudian David berkata,
“Maaf ya, Na, aku sering cuek ke kamu.”
Kirana
terdiam dan tak membalas ucapan David.
***
Semenjak
kejadian itu, Kirana dan David semakin kerap bertemu. Ya, mereka memang sering
bertemu. Namun hanya di UKM yang mereka ikuti. Namun kali ini, diluar kampus
saja mereka cukup sering bertemu. Seperti ke café bersama, ke perpustakaan
bersama, bahkan olahraga untuk sekadar jogging pun bersama hingga Kirana dan
David pun terkadang saling mengunjungi rumah masing-masing.
Kini pandangan Kirana
terhadap David berubah. Ia mengakui bahwa David memang orang yang menyenangkan,
nyambung diajak bicara, dan cukup humoris. David yang cuek adalah panggilan
untuknya ketika Kirana belum akrab dengannya.
“Vid?
Kamu bisa cariin buku ini nggak?
Kirana yang masuk dijurusan Sosiologi ini meminta tolong pada David.
David
berpikir sejenak, “Kamu tuh aneh ya, Na. Aku ‘kan, jurusan Hubungan
Internasional. Kamu nyuruh aku cariin buku Sosial. Hehehe.”
“Ya
udah sih, kalau nggak mau.” Kirana sudah mentok banget. Tugasnya menumpuk dan
Kirana sebenarnya bukan tipe orang yang ingin meminta bantuan, namun entahlah
kepada David ia justru ingin David menolongnya.
“Ok.
Aku cariin. Tapi nanti malem temenin aku jalan-jalan ya.”
***
Drtt..
drtt… Ponsel Kirana bergetar tanda ada pesan Whatssapp masuk.
“Kirana,
aku udah di depan rumah kamu.”
Kirana
lalu keluar dari rumahnya dan segera menemui David. David memandangnya sebentar
kemudian bergumam, “Sangat cantik.”
Kemudian
mereka berjalan-jalan ke acara perayaan Malam Tahun Baru. Mereka membeli
beberapa makanan. Dan berbagi cerita. Mereka saling tersenyum dan berfoto
bersama. Layaknya pasangan yang tengah bergembira.
Ketika mengantar Kirana
pulang, David berkata, “Na, makasih ya, buat hari ini.” Ia tersenyum manis.
Kirana membalas
senyumannya. “Iya, Vid.”
David tiba-tiba
menggenggam tangan Kirana.
Untuk pertama kalinya,
Kirana merasa dirinya adalah wanita paling bahagia. Apakah ia merasa semakin
jatuh hati dengan lelaki dihapadannya ini?
***
Kirana
melamun di kantin fakultasnya. Ia duduk seorang diri sambil mengaduk-aduk
baksonya. Padahal biasanya jika ia dihadapkan dengan bakso, yangmana merupakan
makanan favoritnya, ia akan langsung melahapnya. Namun kini ia tak berselera
makan.
Sudah
hampir 1 bulan David tidak mehubunginya. Pernah ia nge-chat saja tak ada respon.
Tunggu, ketika tak sengaja berpapasan di kampus saja David melengos dan
pergi.
Kirana
tidak seberani itu untuk mengunjungi rumah David, dan menanyakan mengapa
tiba-tiba sikap David berubah? Lagi?
Apa
salah Kirana? Apa Kirana membuatnya tak nyaman? Ataukah Kirana hanya sekadar
‘tempat’ untuk melampiaskan rasa bosannya saja? Sesakit itukah?
Kirana
menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh. Ia tidak mengerti mengapa ditinggal
oleh orang yang tiba-tiba dekat dengannya adalah hal sesakit ini.
Kirana
bergumam. Untuk apa? Untuk apa David mengunjungi hatinya jika hanya dalam waktu
hitungan detik?
***
“Kirana,
gue ada kabar baru. Lo mau tau nggak?”
Tanya Citra dengan hati-hati. Citra adalah teman yang paling dekat dengannya di
kampus.
Kirana
merubah posisi duduknya. “Eh, Citra. Ada apa , Cit?”
“Tapi
gue nggak enak ngomongnya, Na.” Citra tersenyum masam.
“It’s
OK. Ngomong aja.”
“Lo
tau Laura? Anak fakultas Sastra yang terkenal itu?” Kirana mengingat-ingat
kemudian mengangguk.
“David
ngelamar Laura kemarin.”
Tenggorokan
Kirana tercekat. Entahlah untuk beberapa saat ia terdiam dan ia tak mendengar
ada suara apa-apa. Pikirannya kosong. Kemudian ia berpamitan pada Citra untuk
pulang.
Untuk
beberapa hal, Kirana ingin sendirian. Dengan kabar yang melumpuhkan harapannya.
Dengan kenyataan yang miris ini. Dengan realita yang membuat hatinya sakit
hati.
***
Dalam
hidup, ada kalanya hal yang tak terduga datang menimpa. Entah hal itu
menyenangkan atau menyesakkan hati. Semuanya telah diatur oleh Sang Pencipta.
Apa
yang bisa kita lakukan? Merubahnya? Semudah itukah?
Helaan
napas cukup panjang tandanya ini sangat berat. Gumaman cukup keras menandakan
beban yang diembannya semakin banyak. Air mata yang membanjiri kedua pipi
mengartikan bahwa yang dirasakan adalah kesedihan yang mendalam.
Tak
mampu. Dua kata yang jelas dan menandakan bahwa benar-benar tak bisa.
Ya,
Kirana hanya bisa merelakan. Lelakinya direbut oleh wanita lain. Entah ini
direbut adalah kata yang pas atau tidak. Oh, tunggu. Atau lebih tepatnya,
pergi? Benar. Lelaki itu pergi bersama wanita lain.
Perlahan
menghapus kenangan antara Kirana dengan dirinya. Entah itu benar-benar dari
hatinya atau… ah sudahlah. Berat sekali bahkan untuk mengungkapkan.
Memejamkan
mata. Berharap esok hari akan ada yang lebih baik. Begitukah? Akan ada tangan
lain yang mengenggamnya dan berkata, patah hati bukan akhir dari segalanya.
Mari bangkit kembali dan mulailah menata hati. Agar tidak sia-siakan hidup ini.
Hidup masih panjang, dan biarkan rasa ini hilang seiring berjalannya kehidupan
ini.
Relakan
dan bangkitlah. Percaya bahwa akan kau temukan kembali lelaki lain yang jauh
lebih dari dirinya. Yang mampu bersamamu apa adanya. Menuntunmu hingga ke jalan
Surga. Dan membuatmu lupa akan patah hati itu apa?
----