Jumat, 18 September 2020

Tentang Waktu

        Jika ada yang bertanya apa yang paling kusukai? Aku akan menjawab menulis.

Jika ada yang bertanya siapa yang paling kubenci? Itu ayahku.

***

Namaku Mira. Namira Kamilia. Orang bilang aku ceria. Dibuktikan dengan sikapku yang ramah dan sangat menyukai anak kecil. Mereka lucu dan menyenangkan, menurutku. Akupun sangat menyayangi mereka.

Tapi sayangnya, aku bahkan tidak mendapat kasih sayang dari Ayahku, sejak Ayah dan Ibuku bercerai. Ayahku berubah menjadi pribadi yang keras, dia bahkan sering memukuliku.

Apakah aku selalu sedih? Tidak, aku bahkan selalu tegar. Atau apakah aku akan melawan Ayahku? Kubiarkan dia memukulku, karena beberapa kali Ayahku mengancam akan membunuhku. Tentu saja untuk gadis berumur 15 tahun sepertiku sangat ketakutan, bukan.

“Mira,” panggil Ayah.

“Iya, Yah?” Ayahku menyadarkanku dari lamunan. Aku bergegas menemuinya.

***

Hari yang cerah. Aku memutuskan hari Sabtu ini untuk pergi ke Perpustakaan Daerah. Aku memang sangat suka membaca buku. Terlebih jika ke bagian tempat bacaan anak-anak kecil. Asyik sekali mengobrol dan mendongeng bersama.

Aku bergegas pergi menuju ke Perpustakaan Daerah menggunakan bus. Sesampainya disana kulihat banyak anak-anak tengah membaca buku bergambar. Wah, ternyata mereka adalah rombongan anak-anak TK yang sedang belajar sekaligus bermain di perpustakaan.

Aku meminta kepada salah satu guru TK untuk menemani anak-anak. Guru TK itu mengiyakan. Kusapa salah satu anak berambut pendek dengan poni tipis. Sangat menggemaskan. Cia, namanya.

“Cia suka sama yang mana?” Aku bertanya sambil menunjukkan beberapa gambar-gambar binatang.

“Aku suka kupu-kupu. Cantik.”

“Wah, kakak juga suka. Cia tau nggak kupu-kupu itu asalnya dari apa?”

Cia menggeleng.

“Dari kepompong, terus tumbuh besar jadi kupu-kupu.” Cia mulai antusias dan mendengarkan ocehanku.

Tak terasa sudah 1 jam lebih aku menemani anak-anak TK bermain dan membaca di perpustakaan. Ibu guru TK justru berterima kasih denganku, sebab katanya mereka sedang kewalahan karena rekannya ada yang berhalangan hadir.

Aku bergegas meninggalkan ruangan baca anak-anak dan mengunjungi ruangan baca umum. Aku mencari bangku kosong di dekat jendela. Kuambil buku catatan kecil dari tas. Aku menuangkan bait demi bait untuk tulisanku. Ah, menyenangkan sekali memandang tumpukan rak-rak buku sambil menulis cerita.

Terkadang aku berpikir, entah tulisanku bagus ataupun tidak tapi aku tetap suka menulis. Bukankah menulis itu hobi yang murah dan tidak merugikan orang lain?

***

Cerita anak yang telah kubuat kurang lebih selama 1 bulan akhirnya selesai. Aku berencana akan mengirimkan tulisan ini pada penerbit. Tekadku sudah bulat.

Bahkan aku harus membuat cerita anak ini dengan menggunakan buku. Pasalnya aku tidak memiliki laptop untuk mengetik cerita. Eh, sebenarnya Ayahku mempunyai laptop, tapi aku bahkan tidak berani untuk meminjamnya. Jadi kutulis di buku terlebih dahulu, barulah ku ketik di komputer yang ada di Warnet. 

Selesai mandi, aku bergegas akan berangkat. Tunggu, flashdisk berisi file tulisanku dimana? Aku mencari dimana-mana tapi hasilnya nihil. Tak kutemukan dimanapun barang kecil tersebut.

Aku dengan ragu bertanya pada Ayahku. Memang aku mengobrol dengan Ayah jika dia yang memulainya lebih dulu. Tapi kuberanikan diri untuk bertanya. Dan dengan entengnya dia menjawab, “Oh, tadi Ayah pinjam. Tapi malah Ayah lupa naruh dimana.”

“Yah, itu isi file penting.”

“File apa sih? Kan kamu bisa buat lagi.” Ayahku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya dengan korek api.

“Cerita anak, Yah.” Aku sedih sekali rasanya. “Ah, tunggu. Di hp ku.”

Aku mencari di smartphone-ku dan hasilnya nihil, sudah dihapus.

“Apa Ayah sengaja menghapusnya?”

“Kalau iya kenapa?” Ayahku justru membentak dan meninggalkanku sendirian.

***

Aku memutuskan untuk menulis cerita lagi. Sekitar beberapa minggu akhirnya cerita selesai dibuat.

“Mira…” panggil Ayah dari ruang makan.

Aku yang sedang membaca ulang naskah cerita yang sudah di print sambil mendengarkan lagu lewat earphone, tidak mendengar panggilan dari Ayah.

Ayah bergegas menghampiriku di kamar.

“Kamu nulis lagi?” Ayah bertanya dengan nada ketus.

“Iya, yah. Abis Mira kan pengen jadi penulis, Yah.”

Mendengar bahwa aku ingin menjadi penulis, Ayah semakin geram. Kali ini Ayah dengan sengaja membakar naskah yang telah jadi. Dia juga menghapus file berisi cerita tersebut.

Aku sebenarnya bingung dengan sikap Ayah. Hanya saja satu hal yang kuketahui. Ayah sangat membenci diriku yang suka menulis. Pasalnya ibuku dulu adalah seorang penulis novel, tapi ayah dan ibu telah bercerai. Ibuku lebih memilih pria lain. Ayah sangat tidak menyukai hal itu. Ya, sebenarnya Ayah memiliki rasa kehilangan yang teramat sangat. Oleh sebab itu, dia lampiskan padaku.

***

Bulan demi bulan berganti, aku menjadi semakin pemurung. Hatiku sakit sekali diperlakukan seperti itu oleh Ayah.

Tapi aku tetap menulis lagi. Tapi apalah daya, kali ini apa yang Ayah lakukan dengan naskahku? Dia justru merobek naskah tersebut di depanku. Emosiku kali ini tidak bisa tertahankan.

“Kenapa Ayah jahat banget sih? Ayah boleh pukul Mira atau nggak kasih uang saku ke Mira, asalkan Mira boleh jadi penulis dan boleh buat nulis terus.” Aku menangis. Selama ini aku bahkan tidak bisa meluapkan emosi di depan Ayah, saking takutnya.

Ayahku tersentak. Dia seperti ingin menenangkan diriku,  tapi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ayahku merasa bersalah.

Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, Ayahku mulai berubah sikap padaku. Dia mulai bersikap baik denganku. Aku kaget sekaligus senang sekali dengan perubahan sikap Ayah, terlebih yang membolehkanku untuk menulis. Bahkan aku dipinjamkan laptop oleh Ayah untuk menulis.

Bahkan manusiapun bisa berubah. Dengan hal-hal sekecil apapun bisa membuat hati manusia tersentuh. Memang ketulusan hati pasti akan bermakna. Entah itu kapan. Entah 1 tahun, 10 tahun, atau bahkan bertahun-tahun. Hanya saja timing-nya pasti berbeda. Ini hanya masalah waktu.

Kalau ada orang bertanya apa yang paling kubenci? Aku akan menjawab, tidak tahu.

Kalau ada orang bertanya siapa yang paling sukai? Aku akan menjawab, itu Ayahku.

-----------------

SELESAI